Site Loader

A.     Latar Belakang

Masa
usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan
anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun
berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya
sebagai stimulan bagi perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif, bahasa,
dan sosialnya.1 Anak usia dini seringkali menirukan
apa yang mereka lihat, rasakan maupun dengar dari lingkungan sekitarnya. Hal
tersebut karena mereka belum mengetahui batasan benar atau salah dan baik atau
buruk. Oleh karena itu, masa usia dini adalah masa yang peka terhadap pengaruh
dari lingkungan dan merupakan kesempatan bagi lingkungan yang dalam hal ini
ialah orang tua serta guru untuk mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin dengan
cara menyediakan lingkungan berupa kegiatan yang sesuai dengan perkembangan
anak.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Salah
satu potensi anak yang sangat perlu diperhatikan adalah potensi penalarannya terhadap
moral. Penalaran anak terhadap moral akan mempengaruhi pembentukan karakternya.2
Maka dari itu, nilai-nilai moral pada anak usia dini penting untuk
dikembangkan. Nilai merupakan harga atau berbagai hal yang berguna bagi
manusia, sedangkan moral berarti suatu kebiasaan dalam bertingkah laku dengan
baik. Jadi, pengembangan nilai moral merupakan pembentukan perilaku anak
melalui pembiasaan yang terwujud dalam keadaan sehari-hari, hal tersebut untuk
mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang
dilandasi moral pancasila.3

Nilai
moral pada anak dapat terlihat dari mampu tidaknya anak itu membedakan yang
baik dan yang buruk, bersikap jujur, menghormati guru, rapi dalam berpakaian,
menjaga kebersihan lingkungan, ramah, tanggung jawab dan menghargai teman.
Upaya dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini harus dilakukan
dengan tepat agar pesan moral yang disampaikan kepada anak tidak terhambat.
Salah satu metode yang tepat dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak
usia dini yaitu melalui metode storytelling atau mendongeng.

Storytelling
atau mendongeng merupakan cara yang sering dilakukan oleh para
orang tua dalam mendidik anaknya untuk menanamkan nilai-nilai luhur. Storytelling
atau mendongeng tidak semata cerita pengantar tidur tentang mitos atau
sejenisnya, tetapi juga kejadian-kejadian nyata yang dikemas sedemikian rupa
dengan bantuan teknologi sehingga menarik dan kaya pesan moral.4
Storytelling atau mendongeng yang tepat untuk anak usia dini yaitu
dengan pemilihan dongeng yang berisi nasehat, bimbingan, dan pesan moral yang
berguna bagi kehidupan. Dalam hal ini storytelling atau mendongeng menempati
posisi pertama dalam mengubah etika anak-anak dengan cara yang menyenangkan
tanpa mereka sadari dan mengembangkan imajinasi, mengekspresikan diri, mengasah
pengalaman emosional dan memperluas wawasan pengetahuan anak terhadap
lingkungan sekitarnya.5

Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling
atau mendongeng adalah cara bertutur kata penyampaian cerita atau
memberikan penjelasan kepada anak secara lisan, dalam upaya mengenalkan ataupun
memberikan keterangan hal baru pada anak. Dalam penyampaian nilai-nilai moral
melalui storytelling atau mendongeng, seorang guru harus paham dengan
nilai moral yang hendak disampaikan dan juga menguasai dengan baik teknik dalam
bercerita. Hal tersebut agar lambat laun merubah perilaku anak yang semula
tidak sesuai dengan nilai yang ada dalam keseharian di masyarakat menjadi lebih
baik. Metode storytelling atau mendongeng akan mampu menjadi metode yang
efektif digunakan untuk mengembangkan nilai-nilai moral bagi anak usia dini jika
diterapkan secara tepat.

Akan
tetapi, kenyataannya masih banyak nilai-nilai moral belum berkembang dengan
baik seperti kurang menghormati guru, tidak berpakaian rapi, tidak menjaga
kebersihan lingkungan, kurang ramah, kurang bertanggung jawab dan kurang
menghargai teman. Penyebab masalah tersebut yaitu kurangnya fasilitas seperti
buku cerita maupun gambar, alat permainan boneka tangan, dan metode yang tidak
bervariasi dan kurang tepat sehingga anak merasa bosan dan kurang memperhatikan
apa yang diajarkan. Dalam memecahkan masalah metode yang dipilih untuk
mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini yaitu metode storytelling
atau mendongeng karena dianggap akan efektif bila diterapkan secara tepat. Maka
dari itu diperlukan pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini melalu
metode storytelling atau mendongeng. Semoga penelitian yang
berjudul “Pengembangan
Nilai-nilai Moral pada Anak Usia Dini Melalui Metode Storytelling”
bermanfaat dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini serta
menambah pengetahuan khususnya bagi para guru dan orang tua.

 

B.     Tujuan Penelitian

Tujuan
dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1.     
Untuk mengetahui
penerapan metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan
nilai-nilai moral pada anak usia dini.

2.     
Untuk mengetahui kendala
yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini melalui
penerapan metode storytelling atau mendongeng.

 

C.     Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif.
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau
menjelaskan sesuatu hal seperti apa adanya.6 Pemilihan
pendekatan penelitian disesuaikan dengan jenis penelitian yang dipergunakan,
pada kesempatan ini pendekatan penelitian yang akan dipergunakan adalah pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk
mengetahui makna yang sebenarnya dibalik fakta-fakta. Data yang dikumpulkan
berdasarkan data primer. Data primer adalah data yang diambil langsung, tanpa
perantara, dari sumbernya. Sumber dari data ini bisa berupa benda-benda, situs website
atau manusia. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan
wawancara.

a.      
Observasi yaitu teknik pengumpulan
data yang menggunakan cara sistematis dan sengaja dilakukan dengan cara melakukan
pengamatan dan pencatatan dari sebuah gejala-gejala.

b.     
Wawancara yaitu teknik pengumpulan
data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan
melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan
keterangan pada si peneliti.7

 

 

D.     Hasil dan Pembahasan

1.     
Hasil

Hasil
dari observasi menyatakan bahwa metode storytelling atau mendongeng
dapat dilakukan oleh para guru dengan mengacu pada pembahasan atau topik yang
tercantum dalam silabus mata pelajaran. Cerita yang disampaikan oleh guru
biasanya lebih mudah dipahami daripada anak harus membacanya sendiri.
Berdasarkan hasil wawancara salah satu guru sekolah dasar menyatakan bahwa:

a.      
Pengembangan nilai-nilai
moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar biasanya dilakukan melalui
pembiasaan, metode demonstrasi, dan metode bermain yang pada dasarnya sudah
cukup baik tetapi masih sangat rendah. Setelah dilaksanakan metode storytelling
atau mendongeng terjadi peningkatan terhadap sikap dan perilaku anak atau siswa
tersebut.

b.     
Penerapan metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar berdasarkan
kemampuan yang diharapkan mencapai beberapa pengembangan seperti bahasa, sosial
emosional, moral dan dapat memberikan pengetahuan baru bagi anak. Ketika
mendongeng harus sesuai dengan tahap perkembangan anak yaitu baik dari bahasa,
media maupun langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Hal tersebut agar lebih
komunikatif, efektif, dan menyenangkan bagi anak.

c.      
Beberapa kendala yang
dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu sebagai
berikut:

1)     
Kurangnya tenaga kerja
atau guru. Dalam melaksanakan metode storytelling atau mendongeng
dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru. Apabila guru yang satu sedang
bercerita teman guru yang lain mendampingi dan mengatur anak-anak. Hal tersebut
agar anak-anak selalu dalam keadaan kondusif, serta metode storytelling
atau mendongeng dapat terlaksana dengan baik. selain itu dibutuhkan
keterampilan guru dalam menceritakan isi cerita baik dari segi teknik vokal,
kejelasan suara, ekspresi muka, dan keterampilan gerak tubuh yang menyenangkan
maupun media yang digunakan agar anak tertarik mendengarkan cerita.

2)     
Kurangnya fasilitas atau
alat peraga sehingga guru harus menguasai berbagai teknik serta lebih ekstra
dan detail dalam menjelaskan cerita tersebut agar pesan moral yang ada dalam
cerita bisa tersampaikan dan dimengerti oleh anak.

 

2.     
Pembahasan

a.     
Pengembangan
Nilai-nilai Moral

Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nilai adalah harga, hal-hal yang berguna
bagi manusia. Sedangkan, moral adalah perubahan penalaran, perasaan, dan
perilaku tentang standar mengenai benar salah. Standar benar dan salah yang
mengatur perubahan penalaran, perasaan dan perilaku ini tumbuh berdasarkan
perkembangan lingkungan sekitar tempat individu tinggal. Sehingga moral dapat
juga dikatakan sebagai adat atau kebiasaan. Selain itu moral juga dikatakan
sebagai peraturan-peraturan.8

Moral
dapat disimpulkan sebagai kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku
manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Manusia yang tidak
memiliki moral disebut amoral, yang artinya tidak bermoral serta tidak memiliki
nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral merupakan hal mutlak yang
harus dimiliki oleh setiap manusia.

Dengan
demikian, pengembangan nilai moral merupakan pembentukan perilaku anak melalui
pembiasaan yang terwujud dalam keadaan sehari-hari, hal tersebut untuk
mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang
dilandasi dengan pancasila. Pada dasarnya pengembangan nilai-nilai moral pada
anak usia dini atau siswa sekolah dasar sudah cukup baik, tetapi setelah
dilakukan metode storytelling atau mendongeng terjadi peningkatan
terhadap sikap dan perilaku anak. Selain metode storytelling atau
mendongeng dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak-anak dapat diterapkan
melalui metode demonstrasi, metode bermain dan pembiasaan pembelajaran sehari-hari.

 

b.     
Metode
Storytelling atau Mendongeng

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling atau mendongeng
adalah cara bertutur kata penyampaian cerita atau memberikan penjelasan kepada
anak secara lisan, dalam upaya mengenalkan ataupun memberikan keterangan hal
baru pada anak. Metode storytelling atau mendongeng ini lebih cenderung
banyak digunakan, karena anak-anak biasanya senang jika mendengarkan gurunya
mendongeng. Agar dapat menarik minat pada anak untuk mendengarkan, tentunya
cerita yang dibawakan harus tepat yaitu sesuai dengan usia anak dan memuat
nilai-nilai moral yang akan disampaikan oleh guru kepada anak.

Penerapan metode storytelling atau mendongeng
pada anak, berdasarkan kemampuan yang diharapkan mencapai beberapa pengembangan
seperti moral, bahasa, sosial emosional serta memberikan pengetahuan baru setelah
anak mendengarkan cerita. Dalam membawakan sebuah cerita harus sesuai dengan
tahap perkembangan anak, baik dari media, bahasa, dan langkah-langkah dalam
pelaksanaannya. Hal tersebut agar lebih komunikatif, efektif dan menyenangkan
bagi anak-anak. Penerapan metode storytelling atau mendongeng pada anak
usia dini atau siswa sekolah dasar biasanya dilakukan didalam maupun diluar
ruangan yang disesuaikan dengan tema dan kebutuhan anak-anak atau para siswa.

 

c.      
Peranan
Metode Storytelling atau Mendongeng dalam Mengembangkan Nilai-Nilai
Moral

Storytelling atau mendongeng merupakan salah satu metode yang paling
banyak digunakan dalam pengembangan nilai-nilai moral untuk anak usia dini.
Melalui metode storytelling atau mendongeng, dapat disampaikan berbagai
pesan moral untuk anak. Menurut Otib Satibi Hidayat, storytelling atau
mendongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai
sosial, nilai budaya, dan sebagainya.

Sedangkan, Moeslichatoen menjelaskan bahwa, sesuai
dengan tujuannya metode storytelling atau mendongeng adalah menanamkan
pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral, dan agama yang terkandung dalam
sebuah cerita. Metode storytelling atau mendongeng dapat mengubah perilaku
anak-anak karena sebuah cerita mampu menarik anak-anak untuk menyukai dan
memperhatikan, serta merekam peristiwa dan imajinasi yang ada dalam sebuah cerita.
Selain itu, storytelling atau mendongeng dapat pula memberikan
pengalaman dan pembelajaran moral melalui sikap-sikap dari tokoh yang ada dalam
cerita. Supaya dapat mengetahui adanya peranan metode storytelling atau
mendongeng dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau anak
sekolah dasar maka dilakukan sebuah pengamatan.

 

 

 

 

E.     Simpulan dan Saran

1.     
Simpulan

Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan penelitian tentang peranan metode storytelling
atau mendongeng dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:

a.      
Pengembangan nilai-nilai
moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar biasanya dilakukan melalui
pembiasaan, metode demonstrasi, dan metode bermain yang pada dasarnya sudah
cukup baik tetapi masih sangat rendah. Setelah dilaksanakan metode storytelling
atau mendongeng terjadi peningkatan terhadap sikap dan perilaku anak atau siswa
tersebut.

b.     
Penerapan metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar berdasarkan
kemampuan yang diharapkan mencapai beberapa pengembangan seperti bahasa, sosial
emosional, moral dan dapat memberikan pengetahuan baru bagi anak. Ketika
mendongeng harus sesuai dengan tahap perkembangan anak yaitu baik dari bahasa,
media maupun langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Hal tersebut agar lebih
komunikatif, efektif, dan menyenangkan bagi anak.

c.      
Beberapa kendala yang
dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metode storytelling
atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu:

1)     
Kurangnya tenaga kerja
atau guru. Dalam melaksanakan metode storytelling atau mendongeng
dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru.

2)     
Kurangnya fasilitas atau
alat peraga sehingga guru harus menguasai berbagai teknik serta lebih ekstra
dan detail dalam menjelaskan cerita.

 

2.     
Saran

Adapun
beberapa saran dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a.      
Diharapkan para guru agar
dapat menarik perhatian anak dalam mendengarkan sebuah cerita. Guru dapat memanfaatkan
olah vokal yang dimilikinya dalam membawakan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita.
Sedangkan, dalam mengatasi anak yang masih pada tahap berpikir abstrak, guru
seharusnya menggunakan bantuan alat peraga, seperti boneka tangan, benda-benda
tiruan maupun cerita bergambar. 

b.     
Bagi para orang tua,
selain disekolah diharapkan mengajarkan anak nilai-nilai moral di rumah setiap
harinya, seperti hormat pada orang tua, tidak membuang sampah sembarangan, bersikap
sopan santun, mengucapkan terima kasih, menghargai sesama manusia, dan
bertanggung jawab sehingga anak akan terbiasa dan kelak menjadi pribadi
yang  bermoral.

c.      
Bagi para peneliti lain
dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan atau pertimbangan
dalam merancang penelitian selanjutnya bagi yang sama maupun berbeda.

 

1 Yulfrida Rahmawati, “Pengenalan Budaya Melalui Bercerita untuk Anak
Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak Vol. 1 (2012): 73,
https://journal.uny.ac.id/index.php/jpa/article/view/2908.

2 Muzdalifah M. Rahman, “Metode Bercerita Membentuk Kepribadian
Muslim pada Anak Usia Dini,” Thufula Vol. 1 No. 1 (2013): 75,
http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/thufula/article/view/262/266.

3 Mega Yulianti, “Peranan Metode Bercerita dalam Mengembangkan
Nilai-nilai Moral pada Anak di Kelompok B2 TK Pertiwi Palu,” Bungamputi
Vol. 2 (2014): 155,
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Bungamputi/article/view/2046.

4 Made Kerta Adhi, “Model Pendidikan Karakter Berbasis Mendongeng,” Jurnal
Santiaji Pendidikan Vol. 4 (2014),
http://jurnal.unmas.ac.id/index.php/JSP/article/view/52.

5 Nanik Iis, “Pengembangan Empati Anak Usia Dini Melalui Mendongeng
di Taman Kanak-kanak Asyiyah Pariaman,” Jurnal Pesona Paud Vol. 1 No. 04
(2012): 3, http://ejournal.unp.ac.id/index.php/paud/article/view/1667/1436.

6  Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian (Jakarta,
STIA-LAN), 60.

7 Moleong, Lexy
J, Metode Penelitian Kualitatif  Lexy J.
Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Ed. Rev (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007), 64., h. 6

8 Pupung Puspa Ardini, “Pengaruh Dongeng dan Komunikasi Terhadap
Perkembangan Moral Anak Usia 7-8 Tahun,” Jurnal Pendidikan Anak Vol. 1
(2012): 51, https://journal.uny.ac.id/index.php/jpa/article/view/2905.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Myrtle!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out